Saat kelas empat SD, di usia yang seharusnya dipenuhi dengan bermain dan tertawa, Ben mengalami peristiwa yang hampir merenggut nyawanya.
Saat itu hari libur. Rumah sunyi. Tidak ada televisi. Tidak ada aktivitas di dapur. Hanya aroma obat, minyak kayu putih, dan napas berat ibunya karena demam tinggi.
Ibunya terbaring lemah di kamarnya, wajahnya pucat. Di meja kecil di samping tempat tidur terdapat obat resep untuk orang dewasa.
Ben tidak pergi ke mana pun hari itu. Dia bosan. Dia mondar-mandir tanpa tujuan. Rasa ingin tahu seorang anak yang polos perlahan muncul saat matanya tertuju pada obat itu.
"Jika ini membuat Ibu lebih baik... bagaimana rasanya?"
Dia mengambil satu pil.
Menelannya. Menunggu
.
Tidak terjadi apa-apa.
Beberapa menit berlalu. Dia merasa normal. Rasa ingin tahunya semakin besar.
Dia menelan lagi.
Dan lagi.
Sampai kesepuluh pil itu habis.
Dua jam pertama terasa normal.
Kemudian tubuhnya mulai berubah.
Tangannya gemetar. Awalnya ringan, lalu semakin kuat. Lututnya lemas. Jantungnya berdetak tidak teratur. Penglihatannya kabur seperti pecahan kaca.
Ia mencoba berdiri, tetapi tidak bisa.
Tubuhnya gemetar hebat. Tak terkendali.
Kepalanya terasa seperti diremas dari dalam. Seolah-olah ada sesuatu yang membengkak dan akan meledak.
Seorang teman yang datang bermain melihatnya dan panik. Orang tua Ben tidak ada di rumah. Kakeknya dipanggil.
Kakeknya tiba, tampak khawatir. Tidak ada yang tahu apa penyebabnya. Tidak ada yang tahu bahwa Ben telah menelan sepuluh pil untuk penggunaan dewasa.
Kakeknya hanya bisa memandikan, menggosok, dan memijat seluruh tubuhnya.
Selama tiga jam penuh, tubuh Ben gemetar.
Di tengah rasa sakit yang luar biasa, kesadarannya terasa terpecah. Setengahnya masih merasakan tubuhnya tersiksa, sementara setengah lainnya tampak berada di ruang lain.
Dan di ruang itu, ia melihatnya.
Seorang pria paruh baya, sekitar 60 tahun. Berdiri jauh. Sangat jauh. Seolah-olah dipisahkan oleh jarak tak terlihat puluhan ribu kilometer.
Wajahnya tidak sepenuhnya jelas. Tampaknya diselimuti kabut tipis.
Tetapi pikiran Ben mencoba membayangkannya.
Garis rahang yang tegas. Hidung yang lurus. Garis tipis di dahinya. Rambutnya sebagian beruban. Posturnya tegak.
Tatapannya dalam, meskipun matanya tidak sepenuhnya terlihat.
Kemudian suara itu datang.
Bukan melalui telinganya.
Langsung ke dalam pikirannya.
"Aku akan menunggumu, Ben."
Tenang. Berat. Pasti.
"Kemarilah. Aku akan menunggu."
The narrative has been taken without permission. Report any sightings.
Kata-kata itu terasa nyata. Bukan seperti mimpi biasa.
Dan tepat ketika tubuhnya di dunia nyata hampir menyerah, dia tersadar.
Getarannya perlahan mereda.
Dia menoleh ke belakang, melihat keluarganya yang panik.
Namun pria itu tidak ada di sana.
Sejak kejadian itu, perubahan mulai terjadi.
Awalnya, hanya pada ingatannya.
Dia bisa mengingat percakapan secara detail, bahkan jam dan detiknya. Dia bisa mengingat ekspresi wajah orang, intonasi suara mereka, bahkan posisi tangan mereka saat berbicara.
Tetapi perubahan itu tidak berhenti di situ.
Pendengarannya menjadi sangat tajam.
Dia bisa mendengar detak jam di dua ruangan berbeda. Dia bisa mendengar gemerisik serangga yang samar di dinding. Suatu sore, dia benar-benar mendengar langkah kaki semut di lantai teras—suara yang sangat kecil sehingga sebelumnya tidak mungkin didengar.
Dia bisa membedakan langkah kaki hanya dari tekanan dan ritmenya. Dia bisa tahu siapa yang mendekat bahkan sebelum mereka terlihat.
Suara-suara di dunia tampak diperbesar.
Bukan kebisingan.
Tetapi detail.
Lebih jauh lagi, penglihatannya telah berubah.
Bidang pandangannya tampak melebar, sekitar 20 derajat lebih lebar dari sebelumnya. Dia bisa merasakan gerakan ke kiri dan kanan tanpa harus memutar kepalanya sepenuhnya.
Di ruangan gelap, dia masih bisa melihat bayangan. Tidak terang, tidak sepenuhnya jelas, tetapi cukup untuk mengenali bentuk dan jarak.
Hal yang paling aneh adalah jangkauan penglihatannya.
Suatu hari, dia berdiri di halaman sekolah. Dia melihat ke arah pepohonan di ujung jalan. Tanpa sadar, dia memfokuskan pandangannya.
Dan tiba-tiba, detail-detailnya menjadi lebih jelas.
Seperti lensa teleskop yang disesuaikan perlahan.
Dia bisa melihat dedaunan bergerak tertiup angin. Dia bisa melihat seseorang yang berdiri jauh lebih jelas dari seharusnya.
Dia berkedip.
Penglihatannya kembali normal.
Dia mencoba lagi.
Dan berhasil. Seolah-olah matanya bisa memperbesar gambar ketika dia menginginkannya.
Semua itu terjadi tanpa dia sadari.
Tetapi satu hal tetap konstan.
Setiap kali dia menutup matanya, wajah lelaki tua itu muncul kembali.
Dia mencoba memperjelasnya dalam pikirannya.
Dia membayangkan tekstur kulitnya. Garis kerutannya. Bentuk alisnya. Cara bibirnya bergerak ketika dia berbicara.
Semakin dia mencoba mengingat, semakin detail wajah itu—tetapi tidak pernah sepenuhnya jelas.
Seolah-olah pria itu nyata.
Tetapi belum saatnya untuk melihatnya sepenuhnya.
Dan setiap malam dalam mimpinya, pria itu tetap berdiri di tempat yang sama.
Menunggu.
Tanpa bergerak.
Tanpa marah.
Tanpa tersenyum.
Hanya menunggu.

