Saat duduk di kelas dua SD, Ben mengalami peristiwa tergelap dalam hidupnya—sebuah kejadian yang mengubah pandangannya tentang dunia selamanya.
Pagi itu, ibunya menyuruh Ben membeli bumbu masak di toko yang cukup jauh dari rumah. Dengan langkah ringan, Ben berangkat menyusuri jalan desa yang masih sepi. Di perjalanan, ia bertemu sepupunya, Hana—seorang gadis kecil yang ceria seusia dengannya.
“Ben!” panggil Hana sambil melambaikan tangan. “Ayo kita cari mangga! Ada banyak mangga matang di halaman belakang.”
Di desa mereka, berburu mangga adalah kegiatan yang umum. Anak-anak sering pergi ke kebun dan menunggu buahnya jatuh. Ben ragu sejenak, tetapi ia merasa masih punya waktu sebelum pergi ke toko. Akhirnya, ia mengangguk.
Mereka memasuki kebun yang rindang. Mereka mengumpulkan beberapa mangga. Namun, ketika Ben merasa sudah cukup, Hana menginginkan lebih.
“Kamu pergi ke toko dulu,” kata Hana. “Aku akan menunggu di sini sebentar.”
Ben sedikit khawatir. Kebun itu sepi dan jauh dari daerah permukiman. Namun Hana menenangkannya. Akhirnya, Ben melanjutkan perjalanan ke toko.
Setelah membeli rempah-rempah, Ben teringat Hana, yang masih sendirian di kebun. Kecemasan membuatnya mempercepat langkahnya. Jantungnya berdebar kencang.
Dan di sana, di balik pohon mangga yang rimbun, dunia kecil mereka hancur.
Di depan mata Ben, Hana—sepupunya yang berusia sembilan tahun—sedang diperkosa oleh seorang pria dewasa, sekitar empat puluh tahun. Ben membeku. Napasnya tersengal-sengal.
"Hentikan!" teriak Ben sambil berlari.
Tetapi tubuh kecilnya tidak mampu menahan kekuatan orang dewasa. Pria itu menjatuhkan Ben ke tanah lalu mengikatnya ke batang pohon mangga. Ben hanya bisa menangis, menatap ngeri apa yang telah terjadi pada Hana.
Pria itu menyelesaikan perbuatan bejatnya, lalu merampas semua mangga dan sisa uang belanja dari Ben. Setelah itu, dia pergi begitu saja, meninggalkan kedua anak kecil itu dengan luka yang tak terbayangkan.
Pelakunya adalah seseorang yang mereka kenal: Jack—tetangga dari desa mereka.
Hampir setengah jam berlalu sebelum ibu Ben curiga karena anaknya belum pulang. Ia mengajak Lisa, kakak perempuan Hana, untuk mencarinya. Ketika mereka tiba di kebun mangga, pemandangan yang memilukan menyambut mereka.
Ben diikat ke pohon, wajahnya memar, dan menangis tersedu-sedu. Begitu dilepaskan, ia langsung berteriak, "Hana, Kak... Mama... Hana diperkosa oleh Jack!"
Lisa berteriak histeris ketika melihat adiknya terbaring lemah. Mereka membawa Hana pulang, gemetar dan patah hati. Di perjalanan, mereka bahkan bertemu Jack, yang berpura-pura tidak tahu apa-apa.
Ketika sampai di rumah, mereka mendapati rumah Ben telah dibobol. Bukti menjadi jelas. Tak lama kemudian, polisi menangkap Jack.
Ben kembali bersekolah, tetapi Hana harus berhenti selama tiga bulan karena trauma yang mendalam. Sejak hari itu, Ben berubah. Dia menjadi pendiam dan menarik diri dari kehidupan sosial. Dunia anak-anak yang riang tidak lagi menarik baginya. Yang dia tahu hanyalah belajar, membantu orang tuanya, dan kesunyian.
________________________________________
Di desanya, anak-anak yang berprestasi dalam olahraga dianggap sebagai kebanggaan keluarga. Mereka disorak, dipuji, dan dihormati. Ben tumbuh berbeda. Sementara teman-temannya menghabiskan waktu di lapangan, Ben lebih suka tinggal di perpustakaan kecil desa.
Buku-buku berdebu menjadi tempat perlindungannya. Di sana ia menemukan kedamaian dan jawaban atas pertanyaan yang tidak berani dia tanyakan.
Ben segera menyadari bahwa dia berbeda. Sementara teman-temannya masih berjuang untuk membaca, dia sudah melahap buku teks dengan mudah. ??Dalam pelajaran agama, sementara anak-anak lain masih mengeja bahasa Arab, Ben sudah menghafal bab-bab panjang Al-Qur'an.
This content has been misappropriated from Royal Road; report any instances of this story if found elsewhere.
Tetapi kecerdasannya hanya membuatnya semakin terisolasi.
"Ben aneh," bisik seorang teman.
"Ya. Anak-anak normal bermain sepak bola, bukan membaca buku," jawab yang lain.
Ben tidak peduli. Ia menemukan cara untuk bertahan hidup: mengubah kecerdasannya menjadi peluang. Ia mengerjakan tugas sekolah, membuat contekan rahasia untuk ujian, dan perlahan-lahan mengumpulkan uang receh.
Namun bakatnya tidak berhenti di situ. Ia tertarik pada mesin dan elektronik. Ia mengamati tukang reparasi yang datang ke desa, mempelajari cara kerja perangkat mereka, dan mencoba membongkar berbagai benda.
Suatu hari, ia berhasil memperbaiki televisi tetangganya.
“Kau hebat sekali, Ben,” kata tetangganya sambil memberinya uang.
Namun keberhasilan itu justru menjadi sumber masalah di rumah.
Suatu malam, ayahnya menemukan uang di saku Ben.
“Dari mana uang ini berasal?” bentaknya.
“Dari memperbaiki TV, Ayah… dan mengerjakan PR teman-temanku,” jawab Ben pelan.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
“Jangan bohong! Kau pasti mencuri!”
Ben terdiam. Tidak ada penjelasan yang pernah dipercaya. Ibunya hanya bisa menundukkan kepala, takut membela diri.
Sejak saat itu, Ben menjadi semakin tertutup.
________________________________________
Ia menemukan pelarian lain: bermain game. Ketika PlayStation tiba di desa, Ben dengan cepat menguasainya. Dia menciptakan cheat, menjual game, dan rahasianya, dan mengubah game itu menjadi sumber penghasilan kecil.
Tidak hanya itu, dia juga mendominasi balapan Tamiya. Dia membongkar mesin mobil mainan, mengganti komponen, dan mencapai kecepatan yang tak tertandingi.
“Kau selalu menang, Ben. Bagaimana kau melakukannya?” tanya seorang anak dengan kagum.
“Aku hanya mengerti cara kerjanya,” jawab Ben singkat.
Tetapi semua prestasi ini masih belum membuatnya bahagia.
Dia masih merasa kesepian.
________________________________________
Di ranah agama, Ben sekali lagi menjadi pusat perhatian. Hafalannya terhadap Al-Quran sangat luar biasa. Guru-gurunya terkesan, tetapi teman-temannya iri.
“Apakah kamu belajar dari jin?” ejek mereka.
Ben hanya tersenyum getir.
Di malam hari, dia sering duduk sendirian di bawah langit berbintang. Dalam keheningan, dia membayangkan seorang ayah yang berbeda—bukan ayah yang memukul, tetapi ayah yang membimbing. Seorang ayah yang melindungi, memahami, dan menghargainya.
Di bawah sinar bulan, Ben berjanji pada dirinya sendiri:
Suatu hari nanti, aku akan menjadi seseorang yang kuat. Bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk melindungi.

